Tuesday, February 17, 2026
HomeMinahasaDari Minahasa untuk Sitaro: Saat Solidaritas Menjadi Bahasa Kemanusiaan

Dari Minahasa untuk Sitaro: Saat Solidaritas Menjadi Bahasa Kemanusiaan

Date:

Minahasa, Jelajahterkini – Pagi itu, halaman Kantor Bupati Minahasa tampak berbeda. Deretan kendaraan pengangkut bantuan terparkir rapi, sementara sejumlah aparatur sipil negara berdiri dalam suasana hening namun penuh makna. Bukan sekadar rutinitas pemerintahan, Kamis (15/1/2026) menjadi momen ketika empati dan solidaritas diwujudkan dalam aksi nyata.

Pemerintah Kabupaten Minahasa secara resmi melepas bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) yang tengah berjuang memulihkan diri pascabencana alam. Di tengah suasana tersebut,

Bupati Minahasa Robby Dondokambey, S.Si, MAP, menyampaikan pesan yang sarat kepedulian.Bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Sitaro bukan hanya duka mereka, tetapi duka kita bersama,” ujarnya. Kalimat itu sederhana, namun mencerminkan perasaan kolektif masyarakat Sulawesi Utara yang terikat oleh rasa persaudaraan.

Bagi Pemkab Minahasa, bantuan ini bukan semata soal logistik. Lebih dari itu, ini adalah pesan bahwa masyarakat Sitaro tidak sendiri. Di balik setiap paket bantuan, tersimpan harapan agar beban yang dipikul para korban dapat terasa lebih ringan.

“Bantuan ini mungkin tidak mampu menggantikan semua yang hilang, tetapi kami berharap dapat menguatkan semangat dan menjadi penanda bahwa kepedulian masih hidup di tengah cobaan,” lanjut Bupati Robby,seraya mengajak semua pihak terus menumbuhkan solidaritas sosial.

Di sisi lain, Kepala BPBD Kabupaten Minahasa, Lona Wattie, SSTP, MAP, menjelaskan bahwa bantuan yang disalurkan telah melalui proses koordinasi dan disesuaikan dengan kebutuhan paling mendesak di lokasi bencana. Kebutuhan dasar menjadi prioritas, agar masyarakat terdampak dapat segera bertahan dan bangkit.

“Ini adalah hasil kebersamaan banyak pihak. Kami memastikan bantuan ini benar-benar dibutuhkan dan dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat di lapangan,” tuturnya.

Pengiriman bantuan ini juga menjadi pengingat bahwa bencana bukan hanya tentang kerusakan fisik, tetapi tentang bagaimana sesama manusia saling menopang di saat terlemah. Di antara jarak laut yang memisahkan Minahasa dan Sitaro, kepedulian menjelma jembatan yang menyatukan.

Saat kendaraan bantuan mulai bergerak meninggalkan halaman kantor bupati, doa pun mengiringi perjalanan. Harapannya satu: agar bantuan tiba dengan selamat, dan agar masyarakat Sitaro dapat segera pulih, tidak hanya secara fisik, tetapi juga batin.

Dalam momen seperti ini, solidaritas tak lagi sekadar kata. Ia hadir nyata—dari Minahasa, untuk Sitaro. (Vidi)

spot_imgspot_img

Terbaru

spot_imgspot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here