Minahasa, Jelajahterkini — Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulawesi Utara mengecam keras kasus kekerasan seksual yang menewaskan Evia Mangolo, mahasiswi Program Studi PGSD Universitas Negeri Manado (UNIMA). Korban ditemukan meninggal dunia di rumah kosnya di Kota Tomohon, Rabu (30/12/2025).
Evia diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh oknum dosen berinisial DM. AMAN Sulut menilai peristiwa ini bukan sekadar tragedi personal, melainkan tragedi kemanusiaan yang mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dan negara dalam melindungi perempuan, khususnya di lingkungan kampus.
Dalam pernyataannya, AMAN Sulut menyebut Evia sebagai anak adat yang datang dari kampung dengan harapan menempuh pendidikan dan memperbaiki masa depan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan komunitas adatnya.
“Yang direnggut bukan hanya nyawa korban, tetapi juga harapan keluarga dan kampungnya. Ini melukai martabat perempuan dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Frily Omega Pantow, Biro Kebudayaan AMAN Sulut.
Ketua PH AMAN Sulut, Kharisma Kurama, menegaskan bahwa kasus ini menunjukkan kuatnya relasi kuasa yang timpang serta lemahnya perlindungan terhadap korban kekerasan seksual di institusi pendidikan.
“Pembiaran terhadap kekerasan seksual adalah pelanggaran serius terhadap martabat perempuan dan nilai masyarakat adat,” tegasnya.
Senada, Nedine Sulu, Perempuan Adat Tombulu Koha, menekankan bahwa kekerasan seksual di kampus merupakan pelanggaran HAM berbasis relasi kuasa. Ia mendesak agar pelaku ditindak tegas serta keluarga korban mendapat perlindungan dan pendampingan.
AMAN Sulut mendesak aparat penegak hukum mengusut kasus ini secara transparan dan menyeluruh, termasuk menelusuri kemungkinan kelalaian institusi. UNIMA juga diminta bertanggung jawab secara kelembagaan dan memastikan tidak ada impunitas.
Di akhir pernyataannya, AMAN Sulut mengajak masyarakat sipil dan mahasiswa untuk terus mengawal kasus ini hingga keadilan bagi korban benar-benar terwujud.
“Kami berdiri bersama korban, keluarga, dan komunitas adatnya. Keadilan bagi Evia adalah bagian dari perjuangan menjaga martabat dan masa depan generasi penerus,” tandasnya.
(V)




