Minahasa Utara, Jelajahterkini.com – Semangat iman dan kebersamaan ditunjukkan Kontingen KBK Paroki Santa Ursula Watutumou pada puncak kegiatan Defile Konferensi ke-VIII dan Pertemuan Raya KBK Keuskupan Manado yang berlangsung di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Guaan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sabtu (4/7/2026).
Defile yang dimulai sekitar pukul 13.30 WITA itu menjadi penutup rangkaian kegiatan konferensi. Sebelum pelepasan peserta, panitia memanggil seluruh kontingen dari masing-masing kevikepan untuk bersiap di garis start. Meski cuaca mendung disertai hujan rintik-rintik, seluruh peserta tetap melakukan persiapan dengan penuh antusias.KBK Paroki Santa Ursula Watutumou yang dipimpin Pastor Paroki Bernardinus Palangngan MSC, bersama Ketua KBK Oldy Wagey dan Koordinator Barisan Frengky Kembuan, menurunkan sekitar 300 peserta. Mereka tampil dengan berbagai peran, mulai dari Yesus, Paus, Kardinal, Uskup, Romo, hingga 12 Rasul. Sejumlah peserta juga menggambarkan semangat Pro Familia, Ecclesia et Patria dengan membawa bendera Merah Putih dan bendera Vatikan, serta melibatkan pasangan suami istri dalam barisan defile.Di panggung kehormatan hadir Uskup Keuskupan Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, Wakil Bupati Bolaang Mongondow Timur, serta jajaran pengurus KBK Keuskupan Manado. Saat menyaksikan penampilan pemeran Paus, Kardinal, Uskup dan Romo dari Paroki Santa Ursula, Mgr. Untu bahkan berdiri dan meminta berfoto bersama para pemeran, menjadi momen yang membanggakan bagi kontingen Watutumou.
Memasuki rute defile, hujan yang semula gerimis berubah menjadi hujan deras. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah para peserta. Selama perjalanan sekitar lima kilometer menuju garis finis di depan Gereja Santo Fransiskus Xaverius Guaan, tidak satu pun peserta memilih berteduh.
Keteguhan itu mengundang simpati masyarakat yang menyaksikan dari sepanjang jalan.
“Kasihan juga ya, biar hujan bapak-bapak tetap jalan,” ujar seorang warga lanjut usia.”Semangat bapak-bapak,” teriak warga lainnya memberi dukungan.
Hujan yang turun juga disambut penuh syukur oleh warga setempat. Mereka mengaku wilayah Kecamatan Mooat dan Modayag telah lebih dari sebulan tidak diguyur hujan.”Sudah kurang lebih sebulan wilayah kami tidak turun hujan. Kegiatan KBK Keuskupan Manado ini benar-benar menjadi berkah bagi kami. Terima kasih Tuhan,” tutur seorang warga Desa Mototompiaan.
Di tengah hujan deras, miniatur Gereja Santa Ursula yang diusung peserta menjadi semakin berat sehingga para pengusung harus bergantian memikulnya. Kendati demikian, semangat seluruh peserta tetap terjaga hingga akhir perjalanan.
Koordinator barisan, Frengky Kembuan, menilai hujan justru memberikan pengalaman yang tidak akan terlupakan.”Jika tidak hujan, mungkin kita tidak ada cerita dan kesan yang bisa dibawa pulang,” ujarnya.
Sepanjang perjalanan, peserta juga disuguhi panorama hamparan tanaman hortikultura khas Modayag dan Mooat seperti jahe, bawang daun, dan aneka sayuran yang membentang bak permadani hijau, mengurangi rasa lelah selama menempuh perjalanan.
Meski suhu udara semakin dingin hingga beberapa peserta lanjut usia mulai menggigil, seluruh kontingen KBK Paroki Santa Ursula akhirnya berhasil mencapai garis finis sekitar pukul 16.00 WITA setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam.Ketua KBK Paroki Santa Ursula Watutumou, Oldy Wagey, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan semangat pengorbanan dan kesetiaan dalam pelayanan.
“Salut dan apresiasi tinggi kepada Pastor Paroki Bernardinus Palangngan MSC, seluruh pengurus KBK Paroki, para pemikul miniatur gereja, para lansia, pemeran Yesus, 12 Rasul, Paus, Kardinal, Uskup, Romo, pemegang panji, dan seluruh peserta defile. Iman Katolik KBK sebagai imam di tengah keluarga dan tiang gereja benar-benar ditunjukkan. Istri, anak-anak dan cucu-cucu pasti bangga kepada suami-suami, papa-papa dan opa-opa mereka,” ungkapnya.
Diketahui, KBK Paroki Santa Ursula Watutumou mengikuti seluruh rangkaian Konferensi ke-VIII dan Pertemuan Raya KBK Keuskupan Manado Tahun 2026, mulai dari lomba catur, koor Gregorian, baca Kitab Suci dan renungan, tari pasutri, line dance, koor Seri A, hingga defile.
Semangat pelayanan dan kebersamaan yang ditunjukkan selama konferensi menjadi kenangan berharga bagi seluruh peserta, sekaligus menjadi persembahan iman bagi Tuhan, Gereja, dan Keuskupan Manado, sembari menantikan kembali Konferensi KBK Keuskupan Manado ke-IX empat tahun mendatang.
(DoKaLo)




