TOMOHON jelajahterkini.com– Jejak leluhur dan kekayaan budaya Minahasa kembali menjadi ruang perbincangan. Buku berjudul Watu Toitou,Batu yang mengingat, leluhur yang menjaga jejak Megalitik, Memori, dan Identitas Kultural Tou Minahasa.
Hal ini didiseminasikan melalui diskusi budaya di Kedai Kelung, Kelurahan Matani Satu, Jumat (25/9/2026).
Buku karya Rikson Karundeng tersebut tidak sekadar mengulas keberadaan situs Watu Toitou, tetapi juga membuka percakapan lebih luas mengenai hubungan antara tinggalan megalitik, memori kolektif, identitas budaya, dan kehidupan masyarakat Minahasa masa kini.

Karundeng mengatakan, kegiatan diseminasi dan diskusi tersebut merupakan bagian dari upaya mensosialisasikan sekaligus mendorong pemanfaatan pengetahuan mengenai situs-situs Watu Toitou kepada masyarakat, komunitas budaya, akademisi, pemerintah hingga generasi muda.
“Diharapkan hasil kajian dalam kegiatan ini dapat menjadi bahan pengetahuan, sekaligus membuka ruang dialog mengenai keberadaan, makna, nilai budaya serta upaya pelestarian Watu Toitou di Minahasa,” ujar Karundeng.
Apresiasi terhadap buku tersebut datang dari Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Utara, Faiz Muhammad Anis Kaba. Ia menilai karya Karundeng memberikan tambahan referensi penting bagi kerja-kerja arkeologi, khususnya dalam menelusuri tinggalan sejarah dan budaya di wilayah adat Minahasa.
Menurut Faiz, Watu Toitou memiliki karakter yang menarik karena berbeda dengan tinggalan megalitik seperti arca maupun menhir pada umumnya.
“Situs Watu Toitou ini memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti arca atau menhir pada umumnya. Buku ini bisa menjadi pembuka jalan bagi kami sebagai arkeolog dalam penggalian data sejarahnya,” ungkap Faiz.

Ia menilai keberadaan dokumentasi dan kajian seperti yang dilakukan Karundeng dapat membantu memperkaya petunjuk dalam proses penelusuran sejarah budaya Sulawesi Utara.
Diskusi kemudian berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai bagaimana tinggalan budaya tidak hanya dilihat sebagai benda masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari identitas masyarakat yang perlu dikenali, dikaji dan dilestarikan.
Dialog tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Faiz M.A. Kaba, Arkeolog BPK Sulut; Dr. Denni Pinontoan, akademisi IAKN Manado; serta Ruth Ketzia Wangkai, M.Th., pemerhati kebudayaan dan aktivis perlindungan perempuan.
Kegiatan turut dihadiri akademisi, budayawan, pegiat budaya, pegiat literasi dan jurnalis. Hadir pula Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Sulut Yorry Rommy Lesawengan, Kepala BPK Sulut Anton Hariyanto, Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Seni Budaya Erik Dayoh, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Kota Tomohon Dolvin Karwur, Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Tomohon Ferry Darossa, serta Camat Tomohon Tengah Jones Mait.




